Selasa, 12 Mei 2020

Memahami Makna Islam Rahmatan Lil-alamin?

Oleh : Immawan Alvin Saputra

Tentu tidak asing lagi ditelinga kita semua kalimat Islam rahmatan lil-alamin, tetapi apakah kita semua tau apa makna sebenarnya yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil-alamin? Islam rahmatan lil-alamin merupakan sebuah kalimat yang seringkali di ucapkan para ulama kita ketika menjelaskan prinsip utama Islam sebagai agama yang merangkul atau mengayomi semua pihak dalam semua hal. Dari kalimat rahmatan lil-alamin sudah sangat jelas bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia. Didalam Islam sendiri tata kehidupan manusia didunia ini telah diatur dengan sangat rapi. Hal ini semua bisa kita dapati dari sifat-sifat keluhuran ajaran islam. Islam sangat menjunjung tinggi sekali sebuah prinsip keadilan dan perdamaian. Islam sangat menuntut berbuat adil bagi seluruh umatnya agar memberlakukan manusia sesuai hak dan kewajibannya kepada siapapun itu termasuk orang-orang yang dibenci bahkan terhadap musuh sekalipun. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, sekali lagi terbanyak di dunia. Tapi lihat saja kenyataannya, kita tidak bisa menutup mata dan telinga dengan pemberitaan sehari-hari yang mengabarkan tentang kisah-kisah menyedihkan dan tak beradab yang terdengar di telinga kita saat ini. Mulai dari sekumpulan remaja yang melakukan pencabulan, berjudi, menghisab sabu, tawuran antar sekolah, kumpul kebo, menjadi pengedar, minum-minuman keras. 
Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarganya sendiri, membunuh karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan lain sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam ini keluar di pemberitaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana moral mereka? Bukankah sebagian besar dari mereka adalah muslim? Bukankah orang muslim seharusnya menjadi rahmatan lil-alamin? Jika dikatakan bahwa mereka tidak  mengenyam pendidikan sepertinya tidak juga. Kebanyakan dari mereka telah mengenyam pendidikan dasar, bahkan tidak sedikit yang sudah sarjana bahkan lebih dari itu. Lantas mengapa moral mereka bisa sebegitu hancurnya? Jawabannya adalah mereka tidak memahami dan menjalankan ajaran islam secara kaffah(sempurna). Jika mereka tahu bahwa membunuh binatang semena-mena saja dilarang oleh islam, mana mungkin sampai berani membunuh sesama manusia, apalagi sesama muslim. Jika mereka tahu bahwa islam melarang untuk mencuri dan menipu dan mereka menjalankan larangan itu, mana mungkin mereka berani melakukan korupsi yang jelas-jelas haram melakukannya karena mencuri uang rakyat. Sudah sangat jelas bagaimana islam menjelaskan bagaimana cirri-ciri yang dimiliki orang islam yang sesungguhnya. Jika ingin merasakan Indonesia yang damai, aman dan sejahtera maka yang harus dibenahi adalah moral bangsanya, bukan sekedar pendidikannya belaka. 
Saya merasa prihatin melihat kenyataan Indonesia saat ini. Negeri ini berlimpah sumberdaya alamnya, namun tak dapat menjamin kemakmuran penduduknya. Pasalnya, sebagian besar kekayaan itu justru diserahkan kepada pihak asing. Warga pun tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan pokok, pelayanan kesehatan yang memadai, juga jaminan keamanan. Di sisi lain, jumlah Muslimnya mayoritas, tetapi sungguh kontradiksi melihat keislaman mereka justru kurang tampak dalam kehidupan. Bahkan aturan Islam yang kaffah tidak hadir mengatur urusan masyarakat. Namun demikian, selalu muncul harapan agar suatu ketika negeri ini menjadi negeri yang lebih baik lagi agar terwujudnya Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yaitu  sebuah negeri yang penuh dengan kemakmuran dan berlimpah ampunan Allah SWT. Karena diutusnya nabi Muhammad SAW ke dunia ini sebagai rahmat bagi seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah SWT memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam beliau memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, berupa tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah itulah makna rahmatan lil-alamin yang sesungguhnya. 


FRAKKSION (Forum Aksi Kaji dan Diskusi Online): "Muhammadiyah Dalam Pandemi Covid-19"

09 Mei 2020- Bidang Riset Dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Prof Hamka telah mengadakan FRAKKSION (Forum Aksi Kaji dan Diskusi Online) dengan tema "Muhammadiyah Dalam Pandemi Covid-19". Diikuti oleh ratusan peserta dan dibuka untuk umum, FRAKKSION ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memahamkan Kader Muhammadiyah dan Kader IMM terkait menyikapi pandemi Covi-19. Materi pada FRAKKSION kali ini disampaikan oleh IMMawatan Guntur Cahyono, M.Pd. IMMawatan Guntur Cahyono, M.Pd. beliau seorang Dosen IAIN Salatiga. IMMawatan Guntur Cahyono, M.Pd. ini orangnya humble banget, kalau sudah bicara dan bercerita bersama beliau rasanya waktu 1 dan 2 jam itu kurang.
Kurang lebih empat puluh menit IMMawatan Guntur Cahyono menyampaikan materi dengan ketikan tangan melalui WhatsApp Group. Sebagai opening, IMMawatan Guntur Cahyono mengingatkan Muhammadiyah lahir bersama dengan perjuangan nusantara (hindia belanda) lepas dari penjajahan. Jadi Muhammadiyah adalah Indonesia, dan Indonesia besar salah satunya jasa-jasa para aktivis gerakan Muhammadiyah. Indonesia telah mengalami berbagai problem kebangsaan salah satunya adalah kesehatan, menelisik sejarah panjang itu maka Muhammadiyah wajib hadir. Muhammadiyah sampai saat ini dalam penanganan covid -19 sudah menggelontorkan dana hampir 114 milyar dengan penerima manfaat hampir 2,3 juta jiwa, sungguh muhammadiyah luar biasa. 
Dana sebesar ini digunakan berbagai hal dalam konsentrasi penanganan dampak sosial sampai kesehatan. Untuk uang tunai sendiri mencapai 127 juta lebih dan juga potongan dana SPP mahasiswa lebih dari 36 juta. Bahkan dari KOMPAS TV lewat konser didi kempot kebagian untuk penyaluran 2,2 milyar dan itu angka terbanyak dibanding organisasi lain yang dipercaya menyalurkan bantuan. Ada 75 rumah sakit Muhammadiyah yang ikut serta dalam garda terdepan dalam menampung dan proses penanganan pasien covid 19. Lengkap sudah Muhammadiyah dalam proses penanganan dampak covid-19 di Indonesia. 
Secara sosial Muhammadiyah telah membangun konsep kerja yang jelas dan terukur. Namun, bagaimana warga Muhammadiyah secara keagamaan masihkah ada yang ngeyel tetap pergi masjid untuk shalat jamaah, tarawih, atau jumat. Fatwa dan edara Muhammadiyah sudah jelas dan tegas, ini adalah proses paling sulit yang terjadi di masyarakat. Muhammadiyah telah memberikan pedoman jelas bagi semua masyarakat khususnya tertentu warga muhammadiyah. Maka Kader Muhammadiyah perlu membangun ruh Muhammadiyah sesuai dengan kesepakatan ulama Muhammadiyah.
Bagamaina didesa kalo masih nekat untuk tetap melaksanakan ibadah di masjid?Muhammadiyah tentu belum sampai ke ruang publik secara luas. Tapi Kader Muhammadiyah wajib bereksistensi dimana mereka hadir. Muhammadiyah telah melakukan proses defen yang tepat dan Muhammadiyah melakukan proses pencegahan sekaligus proses penguatan bagi masyarakat terdampak, jangan sampai setelah kejadian baru kita ramai-ramai. Sebagai Kader ruang diskusi dan tidak perlu gegabah menghadapi sebagai masyarakat yang belum memahami pencegahan. Walau juga sulit, sementara orang harus bekerja misalnya semestara disatu sisi ada “tanggung jawab” tetap dirumah.
Menjadi note lagi, semua aktivitas sesuai dengan kondisi baik fisik dan waktu masing-masing individu. Point utamanya ialah bagaimana cara kita mengoptimalkan kebaikan di Wabah Covid-19.“Muhammadiyah sudah melakukan yg terbaik untuk umat dan bangsa. Menjaga Muhammadiyah yg dititipkan Kyai Dahlan sama halnya menjaga bangsa” IMMawatan Guntur Cahyono.
Penulis : Erviana Nandasari (Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Komisariat Prof. Hamka)
Editor : Aisyah Putri 
Cendana Pers Ahmad Dahlan Kota Surakarta