Minggu, 07 Desember 2025

photo by pixelbay

Pelukan Untuk Tubuh Yang Rapuh

Kini tak tersisa walau sedikit

Bayang-bayang hilang

Terbang terlupakan

Kenangan lenyap

Sirna seketika mengejutkan

Kepada diri-diri yang letih

Jiwa-jiwa yang rapuh

Bertahanlah lebih lama

 

Kemana kami harus menetap

Kemana harus diri-diri ini berlindung

Ruang aman kami direnggut

Hak-hak kami dirampas

Harta benda kami dirampok

Kini tiada tersisa

 

Peluk jauh untukmu

jiwa-jiwa yang terkungkung 


puisi oleh:

ketua bidang RPK IMM Prof Hamka


photo by pixelbay

Bumi Manusia Yang Direnggut

bumiku kaya berlimpah rampah

tanaman tumbuh menjulang menjuntai

serba serbi makhluk tingggal saling merangkul

hijau cemerlang menghiasi kelopak berpasangan

garis-garis putih memenuhi sisinya

julaian gemunung gagah perkasa

 

namun para bedebah bersekongkol bersama iblis

menghancurkan, menguras, merenggut

kehidupan tentram pupus

manusia lemah tertindas

orang orang kecil tak didengar

hewan-hewan diusir terlantar

luput dalam pandangan

sirnah dalam ingatan

 

ibu pertiwi menangis

juga makhluk di dalamnya


puisi oleh: 

ketua bidang riset dan pengembangan keilmuan PK IMM Prof Hamkah

 

 

 

Jumat, 05 Desember 2025


Mahluk Bukan Hanya Manusia, Alam dan Hewan Merupakan Bagian Penting Dari Kehidupan.

Sayangnya alam tidak dapat berbicara untuk menegur. Beberapa hari ini sebagian sumatera dilanda bencana bangjir dan longsor. Seakan mengingatkan kita kepada alam yang selama ini soalah tentram namun menyembunyikan dendam atau lebih pantas disebut mala petaka. Banyak korban meninggal dunia, hilang tampa jejak, kerusakan bangunan, fasilitas umum hancur, rumah-rumah warga rata tak tersisa, akses jalan terputus, listrik padam, internet sirnah. Penjarahan mulai terjadi, sejumlah kendaraan besar saling tumpang tindih, jembatan ambruk, jalanan putus terlelap hingga kedalaman hampir 15 meter kebawah tanah, bau mayat memenuhi sela sela udara, tangisan-tangisan terdengar rapuh, masyarakat hidup dalam penderitaan.

Apakah kondisi ini sepenuhnya merugikan? bagi sebagian orang serakah, kondisi ini bisa menguntungkan karena menjadi sarana kampanye baru, menaikkan popularitas dengan bergerak menenteng karung-karung beras, keranjang-keranjang bantuan sosial seolah pahlawan yang datang dengan tulus.

Dalam kehidupan, manusia dan hutan tak bisa terpisahkan, keduanya memiliki keterikatan. hutan memberikan akses kehidupan yang layak bagi manusia, semakin baik hutan semakin baik pula kehidupan manusia. Kita tahu sendiri kerusakan hutan berpotensi besar mendatangkan bencana, terutama banjir dan longsor karena tiada akar pohon yang menyerap air dan menahan kokoh tanah. Hutan yang rusak, curah hujan tinggi dan kapasitas penanggulangan yang tak kompeten menjadi faktor utama bencana ini.

Per 2025, data lingkungan menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang kehilangan hutan tropisnya, dengan kehilangan seluas 10,5 juta hektar hutan tropis. Pada periode 2016 hingga 2025 hutan di aceh, sumatera utara, dan sumatera barat mengalami deforestasi seluas 1,4 juta hektare. kebijakan pemerintah yang tidak kompeten dan tak berpihak bagi pelestarian alam, eksploitasi sumber daya besar-besaran oleh pihak yang tak bertanggung jawab, deforestasi hutan, pengalokasian lahan tambang, menjadi penyebab kedaan tragis ini. bukan hanya manusia, hewan pun ikut merasakan  dampak, mati, kehilangan rumah, habitatnya direnggut, terlantar tak karuan. Pemerintah dan masyarakat wajib memastikan bencana semacam ini tak terulang kembali dan melakukan evaluasi secara nyata karena kita butuh alam, sebagai tempat aman untuk hidup.

karena alam tak dapat berbicara untuk menegur, alam hanya memastikan haknya terpenuhi bahkan dengan banyak korban berjatuhan, bahkan dengan bencana yang amat dasyat.

Sebuah opini oleh:
ketua bidang riset dan pengembangan keilmuan PK imm prof hamkah 2025/2026

 

 

 

 

Minggu, 14 September 2025

Revitalisasi Kaderisasi Dan Penguantan Kapasitas Kader IMM Prof. Hamka di Era Disrupsi

 


Dalam hidup ini, ada satu atau dua hal yang memang berada di luar kendali kita. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya membuat kita berhenti berusaha. Dakwah di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh, karena ruang dakwah di IMM lebih dekat dan mudah dijangkau oleh mahasiswa. Melalui aktivitas dan pembinaan yang dilakukan, setiap kader dapat menemukan wadah untuk berproses menuju kebaikan.

Malam yang penuh hangat ini IMM Prof hamka mengadakan kegiatan Masta, dengan tujuan memperkenalkan IMM sebagai organisasi ortom di bawah naungan Muhammadiyah kepada kader baru, selain itu juga membantu kader baru membangun kesan pertama yang kuat terhadap IMM dan Muhammadiyah menanamkan semangat keilmuan, kepedulian, sosial, dan jiwa kemahasiswaan.

IMM dapat dijadikan sebagai “kampus kedua” bagi mahasiswa. Di sini, setiap kader bukan hanya belajar secara akademis, tetapi juga ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. IMM bukanlah tempat untuk orang-orang yang sudah sempurna, melainkan wadah bagi mereka yang bertekad memperbaiki diri dan ingin tumbuh bersama. Karena itu, jangan pernah menyerah ketika menghadapi dinamika di IMM, sebab setiap proses adalah bagian dari pembelajaran.

Kita perlu memahami bahwa setiap harapan pasti akan berhadapan dengan halangan, dan setiap tujuan pasti akan diiringi oleh cobaan. Hambatan yang ada justru menjadi ujian untuk menguatkan niat serta kesungguhan kita. IMM mengajarkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak akan selalu mudah, namun setiap tantangan yang hadir merupakan bagian dari jalan menuju kedewasaan diri.

Perjuangan di IMM bukanlah soal kemustahilan, melainkan tentang keberanian menghadapi kesulitan. Ini bukan bicara tentang sesuatu yang tidak mungkin, tetapi tentang proses yang memang tidak mudah. Karena itu, semangat kebersamaan, konsistensi, dan pengorbanan harus terus dijaga. Bersama IMM, kita belajar bahwa kesulitan hanya akan menjadi batu loncatan menuju pencapaian yang lebih besar. Sebab, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

"BERSAMA IMM KITA LEBIH KUAT, KEBERSAMAAN ADALAH SEGALA KUNCI, SATU TUJUAN SATU LANGKAH, BERTUMBUH BERSAMA MENUJU MASA DEPAN GEMILANG"

"IMM" JAYA

SALAM HANGAT, ABADI PERJUANGAN

Honai cengklik, mastakom & upgrading. 13-14,september, 2025


Minggu, 07 September 2025

"Langkah Kaki di Aspal yang Panas: Suara yang Tak Didengar"

     Hari demi hari, kebijakan negeri ini selalu menuai protes dari masyarakat. Berbagai peraturan yang membuat rakyat menjerit seolah-olah tak pernah didengarkan oleh pemerintah. Namun, para anggota dewan justru dimanjakan dengan berbagai tunjangan yang sangat tinggi, berbanding terbalik dengan warga yang harus bekerja keras setiap hari bukan untuk kekayaan namun hanya untuk kebutuhan mereka. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. 

    Berbagai tuntutan terus menerus diajukan demi keadilan di negeri demokrasi ini. Namun, ketika masyarakat tengah menyuarakan keadilan, sebuah tragedi naas terjadi. Seorang ojol dilindas oleh kendaraan taktis brimob yang beratnya mencapai 12 ton. Seharusnya polisi bertugas untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat seperti yang tertulis di UU Nomor 2 tahun 2002. Namun, yang terjadi justru mereka tidak bisa menjalankan kewajiban tersebut. Amarah masyarakat semakin memuncak, demonstrasi mulai bergejolak diberbagai daerah sebagai unjuk protes terhadap pemerintah yang kian bobrok dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 

    Negara demokrasi yang harusnya "dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" Justru tidak berlaku di negeri ini. Wahai pemerintah, apakah kalian lupa tentang mengapa revolusi perancis bisa terjadi? Revolusi Perancis terjadi karena pajak yang mencekik, namun para pejabat dimanjakan dengan berbagai kemewahan. 

    Kami mendesak pemerintah untuk segera membebaskan mahasiwa yang ditahan karena melakukan demonstrasi. Bukankah demonstrasi merupakan bagian dari jalannya negara demokrasi? Semua masyarakat memiliki hak untuk bersuara dan mengkritik pemerintah. Seharusnya pemerintah bisa memahami pentingnya kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia demi membangun negara yang demokratis.

Kamis, 17 April 2025

MEMPERTANYAKAN PERAN AKADEMISI KADER IMM

Written by Ahmad Rahid Raidur Ridho
(Ketua Bidang Tabligh)

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan berbagai berita tentang demokrasi, politik, dan lain-lain. Hal ini memicu banyak aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana sikap kita sebagai kader IMM dalam situasi politik dan demokrasi saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Kita perlu memahami maksud dari tujuan IMM. Tujuan IMM adalah “Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Sedangkan tujuan Muhammadiyah sendiri adalah “Menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya”.

Lalu, bagaimana Kita bisa menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagaimana tujuan tersebut? Mengapa IMM penting untuk terlibat dalam tujuan Muhammadiyah? Bagaimana kaitan semua ini dengan demokrasi kita?

Menurut Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017, Akademisi adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Definisi ini mungkin kurang relevan jika dikaitkan dengan perkaderan. Sebab tidak semua kader IMM akan menjadi pendidik profesional maupun ilmuwan. Namun, tanggung jawab atas ilmu yang diperoleh tersebut masih relevan.

Dalam sistem perkaderan IMM, menjelaskan bahwa gerakan ilmu amaliah dan ilmiah bertujuan untuk mencapai masyarakat yang ilmiah, yaitu yang memiliki kerangka pikir ilmiah, rasional, dan terbuka. Artinya, tujuan akhir dari ilmu adalah transformasi dalam masyarakat.

Sekarang, pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa malakukan transformasi tersebut? Dalam konteks kemiskinan misalnya, yang mana dalam Islam haruslah diberantas. Sebenarnya, kita perlu melakukan transformasi sehingga umat Islam bisa kuat secara ekonomi. Menurut Kuntowijoyo, kebutuhan umat saat ini tidak hanya terbatas pada pemahaman teks kitab suci, tetapi juga pada kemampuan untuk melakukan transformasi. Jawabannya adalah melalui aktivitas ilmiah yang berbasis pada rasa ingin tahu dan inovasi.

Dalam melaksanakan visinya, IMM lahir untuk mewakili Muhammadiyah di ranah mahasiswa. IMM menjadi wadah bagi mahasiswa untuk membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dan memiliki kemampuan ilmiah yang tinggi, dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah.

Tujuan IMM sangat relevan dengan tujuan etis organisasi dalam melahirkan individu yang unggul secara pengetahuan dan akhlak. Jika umat Islam unggul karena pengembangan ilmu, maka IMM pun ada untuk kebutuhan aktivitas ilmiah yang berkelanjutan. Dengan demikian, IMM sangat diperlukan untuk melakukan transformasi dalam masyarakat. Kader IMM diharapkan menjadi pionir dalam upaya transformasi tersebut dengan menggunakan intelektualnya untuk membawa perubahan positif di masyarakat.


Editor: Bidang RPK

Jumat, 28 Maret 2025

Ketua dan Kursi-kursi kosong

Kumparan Puisi


Puisi oleh: Ahmad Asriel Nur Hakiki (Ketua Umum PK IMM Prof. Hamka 2024/2025)

Ketua duduk diruang rapat
Ditemani kursi-kursi yang lebih setia 
dari pada para pengurusnya.
Ia menatap daftar program kerja seperti
Menatap ramalan cuaca;
Akan ada hujan alasan angin janji, 
Dan badai ketidakhadiran.

Di grup WhatsApp,
"Siap bang" lebih sering muncul dari pada
Orangnya sendiri.
Proposal-proposal yang disusun rapi
Berakhir jadi puisi kesepian.

Ia bertanya pada megafon yang bisu:
Apakah aku yang terlalu berharap, atau
Mereka yang terlalu ringan untuk menghilang?
Apakah pemimpin harus selamanya kuat, atau
Boleh sesekali kecewa?

Malam semakin larut,
Ia pulang dengan langkah berat, menyalakan
Lampu kamarnya sendiri, dan menulis lagi
"Rapat besok, mohon hadir".


Edited by: Salman Al Farossal (Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan 2024/2025).

Kamis, 20 Maret 2025

Bangkitkan Semangat Reformasi


Oleh: IMMawan Faiz (Staff Bidang Kaderisasi PK IMM Prof. Hamka) 

Reformasi yang kita raih dengan darah dan air mata seharusnya menjadi titik balik untuk Indonesia yang lebih baik. Namun, kenyataan saat ini justru membuat kita bertanya-tanya, apakah perjuangan itu benar-benar telah membebaskan kita? Apakah kita telah cukup belajar dari luka-luka masa lalu, atau justru sedang menggali lubang yang lebih dalam untuk kembali jatuh ke dalamnya?

Orde Baru adalah sejarah yang begitu kelam, masa di mana rakyat dibungkam, hak-hak mereka diinjak, dan setiap keberanian untuk melawan rezim dihancurkan dengan brutal. Tak ada ruang untuk suara rakyat, tak ada tempat bagi perbedaan. Seharusnya, kita tak pernah lagi merasakan kebangkitan kembali ketidakadilan itu. Namun, hari ini, dengan lahirnya RUU TNI, kita dihadapkan pada kemungkinan kembalinya kekuasaan militer yang menggurita. Adakah kita akan membiarkan itu terjadi? Adakah kita akan diam saat sistem yang dulu menindas, mencoba meraih kembali kekuasaan?

Perjuangan kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan otoriter belum selesai. Bahkan kini, kita melihat gejala-gejala oligarki yang semakin menguat, bersembunyi di balik alasan "keamanan negara," membungkus diri dalam dalih yang tampaknya sah. Tapi kita tahu, ini bukan soal keamanan. Ini soal bagaimana segelintir orang, yang tak peduli dengan rakyat, berusaha mengendalikan nasib kita semua. Mereka yang menguasai ekonomi dan politik, dengan rakusnya mengeruk kekayaan dan kekuasaan, tanpa peduli pada penderitaan yang mereka timbulkan.


Apakah kita akan terus membiarkan mereka memainkan politik kekuasaan dengan cara mereka? Apakah kita rela menjadi penonton dalam cerita buruk ini, membiarkan mereka mengulang sejarah yang tak pernah kita inginkan? Kapan lagi kita akan berdiri, dengan berani dan penuh keyakinan, untuk mengatakan bahwa kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu?

Hei yang di atas, apakah kalian benar-benar melihat kami? Apakah kalian tidak mendengar jeritan kami yang sudah lelah dengan janji palsu dan kebijakan yang hanya memperkaya mereka yang sudah cukup kuat? Kami tidak ingin menjadi bagian dari sejarah kelam yang terlupakan. Kami ingin Indonesia yang sejati, yang menghargai keadilan, yang memberikan ruang bagi setiap warga untuk hidup dengan martabat. Kami ingin negara yang berpihak pada rakyat, bukan pada segelintir elit yang terus menggerogoti kehidupan kami.

Kita harus bangkit! Reformasi ini belum selesai! Jangan biarkan segelintir orang merusak cita-cita kita. Jangan biarkan Indonesia kembali terjerumus ke dalam tangan yang salah. Kekuatan kita ada pada persatuan kita. Kekuatan kita ada pada suara kita. Jika kita diam, maka sejarah ini akan kembali terulang. Tapi jika kita melakukan segala bentuk perlawanan, kita bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik untuk kedepannya

"kawal demokrasi, dengan segala dinamika dan romantika, sejarah sedang di ukir kembali"ucap Pak SBY. 

Sekarang adalah waktunya. Waktunya untuk berdiri tegak, untuk menuntut perubahan nyata, dan untuk memastikan bahwa cita-cita reformasi tidak hanya menjadi angan-angan yang terlupakan. Waktunya untuk bergerak bersama dan ciptakan dampak yang nyata!!

Nyala Perlawanan ditengah Kegelapan

Oleh: IMMawan Ahmad Asriel Nur Hakiki(Ketua Umum PK IMM Prof. Hamka 2024/2025)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kian menekan, di saat suara rakyat semakin sayup oleh kebijakan yang menindas, mahasiswa berdiri di garis depan. Mereka bukan sekadar pemuda yang mengisi ruang-ruang akademik, tetapi agen perubahan yang membawa semangat perjuangan.

Mahasiswa melawan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi rakyat yang kerap menjadi korban ketidakadilan. Mereka turun ke jalan bukan karena haus akan kekacauan, tetapi karena hati mereka gelisah melihat hak-hak rakyat dirampas.

Setiap kebijakan yang menindas, setiap penguasa yang lalim, setiap bentuk eksploitasi terhadap kaum lemah—semua itu menjadi panggilan bagi mahasiswa untuk bertindak. Mereka tidak tinggal diam ketika petani kehilangan tanahnya, buruh diperas tenaganya, nelayan diusir dari lautnya, dan kebebasan berbicara dikekang.

Di saat kesewenang-wenangan merajalela dan rakyat kecil semakin terpinggirkan, mahasiswa hadir sebagai nyala api yang menolak padam. Mereka bukan sekadar penonton dalam panggung ketidakadilan, tetapi aktor utama dalam perjuangan melawan tirani.

Dari ruang-ruang diskusi hingga jalanan yang dipenuhi suara-suara lantang, mahasiswa terus bersuara. Mereka bukan sekadar menuntut perubahan, tetapi bergerak untuk mewujudkannya. Sebab bagi mahasiswa, diam adalah bentuk pengkhianatan, dan tunduk pada penindasan adalah penghancuran nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan semangat yang membara, mahasiswa melawan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rakyat yang suaranya kerap dibungkam, untuk kaum tertindas yang hak-haknya direnggut. Selama masih ada ketidakadilan, mahasiswa akan terus bergerak, meneriakkan kebenaran, dan menyalakan harapan di tengah kegelapan.

Ketika hukum hanya tajam ke bawah, ketika keadilan menjadi barang dagangan, mahasiswa tidak bisa tinggal diam. Perlawanan mereka bukan sekadar aksi turun ke jalan, tetapi panggilan jiwa untuk melawan segala bentuk penindasan.

Mereka mengorganisir diri, menyatukan suara, dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang dirampas. Mereka memahami bahwa perubahan tidak akan datang dari mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan, tetapi dari keberanian mereka yang berani berkata, “Cukup sudah ketidakadilan ini!”

Selama masih ada ketidakadilan, selama rakyat masih tertindas, mahasiswa akan terus melawan!

Kamis, 20 Februari 2025

Diskusi dan Sharing Tentang Efisiensi Anggaran dan Efeknya Bagi Masyarakat

 




PK IMM Prof Hamka Cabang Ahmad Dahlan Kota Surakarta menyoroti kebijakan pemangkasan anggaran oleh pemerintah dengan mengadakan diskusi komisariat. Melalui bidang riset, pengembangan, dan keilmuan, diskusi ini dilaksanakan secara offline di sebuah angkringan dekat kampus UIN Surakarta, yaitu Seventi Degrees Kopi. Diskusi ini berlangsung pada Rabu, 19 Februari 2025, meski sempat tertunda beberapa hari karena berbagai alasan. Kegiatan ini merupakan diskusi rutin bulanan yang juga menjadi bagian dari program kerja bidang riset dan pengembangan keilmuan dalam satu periode ini.

Diskusi dimulai sekitar pukul 20.00 dan berakhir pada pukul 22.00. Kegiatan ini dimantik oleh La Ode Inong Arjaim, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Prof Hamka. Setelah pemantik menyampaikan materi, setiap peserta diminta menyampaikan pandangan mereka secara bergantian. Berbagai argumen dan sudut pandang muncul, mulai dari yang pro hingga yang kontra.

Tujuan diskusi ini adalah untuk menambah wawasan dan kesadaran setiap kader IMM akan isu-isu yang sedang terjadi, terutama bagi kader PK Prof Hamka. Diskusi ini bersifat terbuka untuk umum dan wajib diikuti oleh setiap kader PK Prof Hamka. Tidak hanya dihadiri oleh kader Prof Hamka saja, tetapi juga diikuti oleh kader komisariat lain, seperti satu kader dari PK Azhar Basyir dan satu kader dari PK Kasman Singodimedjo yang merupakan bagian dari IMM Cabang Ahmad Dahlan Kota Surakarta.

Harapannya, dengan diadakannya diskusi semacam ini, setiap kader dapat menjadi lebih peduli dan memahami isu-isu sosial yang sedang terjadi di negeri ini serta bagaimana seorang mahasiswa seharusnya menempatkan diri.

Penulis: La Ode inong arjaim (Sekretaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan)

Kamis, 16 Januari 2025

Idealisme Hilang Ketika Pemuda di Butakan Kekuasaan

 

mahasiswa adalah manusia merdeka, bukan

boneka kekuasaan, mari kita independensi dengan kritis terhadap semua kepentingan, 

termasuk politik kampus.

ketika politik masuk kampus yang hilang adalah idealisme. 

jangan sampai mahasiswa dirampas oleh kepentingan yang tidak sejalan dengan masa depan kita. 

dibalik janji manis dan propaganda media, slalu ada kepentingan. 

berpikir lah dua kali, jangan hanya menjadi pion di papan catur politik kampus. 

kampus adalah ruang belajar, bukan medan pertempuran politik, fokus pada substansi, jangan tergelincir oleh permainan kekuasaan.


Penulis: Faiz Abdul Mu'iz (Staff Bidang Kaderisasi PK IMM Prof. Hamka)

Selasa, 07 Januari 2025

Jejak Pembelajaran 2024 dan Semangat Baru Menuju 2025

 

Tahun 2024 telah menjadi perjalanan yang penuh warna. Ada banyak pelajaran, tawa, dan mungkin air mata. Kita belajar bahwa tidak semua yang kita rencanakan berjalan mulus, namun setiap tantangan mengajarkan kita untuk lebih kuat.

Ada saat-saat di mana kita merasa lelah, merasa usaha kita tidak cukup, atau ragu pada diri sendiri. Tapi di tengah semua itu, kita juga menemukan keberanian untuk melangkah maju, meskipun perlahan. Keluh kesah tahun ini mengajarkan kita satu hal:

“semuanya butuh proses, dan tidak apa-apa jika kita belum sempurna”

Kini, di tahun 2025, saatnya kita melangkah dengan harapan baru. Kita harus lebih berani mengambil peluang, belajar dari kesalahan, dan tetap bersyukur atas hal-hal kecil. Mari kita prioritaskan kesehatan mental dan fisik, lebih bijak dalam mengambil keputusan, dan tetap membuka hati untuk membantu sesama.

Harapan untuk 2025 adalah agar kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih tangguh, dan lebih percaya pada kemampuan diri. Apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk berkembang dan bermimpi lebih besar.

Selamat datang 2025, mari kita jadikan tahun ini lebih bermakna.


Penulis : Rini Nur Aisah (Staff Bidang RPK PK IMM Prof Hamka)

Gambar : Editing by M. Fata Habiburrahman