Jumat, 08 Mei 2026


                                                                 foto oleh Bidang RPK

 PREES RELEASE___________________________________________________________________

Nobar & Diskusi Film: Refleksi Relasi Gender dalam Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Dalam rangka meningkatkan kesadaran kritis kader terhadap isu sosial dan gender, Bidang RPK berkolaborasi dengan Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film yang mengangkat tema “Membaca Relasi Gender dalam Layar dan Realitas.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 3 Maret 2026 bertempat di Sekre Maroon, mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai. Melalui pemutaran film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, peserta diajak untuk memahami bagaimana persoalan cinta, adat, dan struktur sosial dapat memengaruhi relasi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.

Film ini diadaptasi dari karya sastra tokoh ulama dan sastrawan besar Indonesia, Hamka, yang menggambarkan konflik sosial yang dialami tokoh utama akibat perbedaan status sosial dan aturan adat yang kuat di masyarakat Minangkabau.

Salah satu konteks penting yang muncul dalam film ini adalah budaya Minangkabau, yang dikenal sebagai masyarakat matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang mengikuti garis keturunan ibu. Dalam tradisi Minangkabau, perempuan memiliki posisi penting karena dianggap sebagai pewaris suku dan pemegang harta pusaka keluarga. Warisan adat, tanah, serta identitas suku diwariskan melalui garis keturunan ibu, sehingga perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan keluarga dan suku.

Namun di sisi lain, sistem ini juga memiliki aturan adat yang ketat, terutama terkait pernikahan dan hubungan sosial. Dalam beberapa praktik adat, perempuan Minangkabau dianjurkan untuk menikah dengan laki-laki yang berasal dari lingkungan sosial yang dianggap setara atau sesuai dengan adat. Hal ini bertujuan untuk menjaga keutuhan identitas suku dan kehormatan keluarga. Dalam film ini, konflik muncul ketika tokoh perempuan dihadapkan pada pilihan antara mengikuti aturan adat atau mengikuti perasaan dan kebebasan pribadi.

Melalui kisah tersebut, peserta diskusi diajak untuk melihat bahwa budaya dan adat istiadat memiliki peran besar dalam membentuk konstruksi sosial tentang gender. Diskusi juga menjadi ruang refleksi bagi kader mahasiswa untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya dapat berinteraksi dengan nilai keadilan, kebebasan individu, serta ajaran agama.

Selain membahas konteks budaya Minangkabau, kegiatan ini juga menyoroti berbagai hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari film ini. Pertama, pentingnya memahami bahwa cinta dan hubungan manusia tidak selalu berjalan sejalan dengan struktur sosial dan adat yang berlaku. Kedua, film ini mengajarkan bahwa status sosial sering kali menjadi faktor yang memengaruhi kesempatan seseorang dalam kehidupan, sehingga diperlukan sikap empati dan keadilan dalam memandang orang lain.

Ketiga, film ini memberikan refleksi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan perjuangan menghadapi takdir kehidupan. Tokoh-tokoh dalam cerita menunjukkan bagaimana manusia berusaha mempertahankan prinsip dan perasaannya meskipun menghadapi tekanan sosial yang kuat. Keempat, kisah ini juga mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kesetiaan merupakan hal yang lebih penting daripada sekadar status atau kedudukan sosial.

Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, kader IMM diharapkan tidak hanya menikmati film sebagai hiburan, tetapi juga mampu membaca pesan sosial, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Diskusi ini menjadi ruang dialektika yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial serta mengaitkannya dengan perspektif keilmuan dan nilai-nilai keislaman.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana memperkuat budaya literasi, refleksi, dan dialog intelektual di kalangan mahasiswa, khususnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.

Minggu, 07 Desember 2025

photo by pixelbay

Pelukan Untuk Tubuh Yang Rapuh

Kini tak tersisa walau sedikit

Bayang-bayang hilang

Terbang terlupakan

Kenangan lenyap

Sirna seketika mengejutkan

Kepada diri-diri yang letih

Jiwa-jiwa yang rapuh

Bertahanlah lebih lama

 

Kemana kami harus menetap

Kemana harus diri-diri ini berlindung

Ruang aman kami direnggut

Hak-hak kami dirampas

Harta benda kami dirampok

Kini tiada tersisa

 

Peluk jauh untukmu

jiwa-jiwa yang terkungkung 


puisi oleh:

ketua bidang RPK IMM Prof Hamka


photo by pixelbay

Bumi Manusia Yang Direnggut

bumiku kaya berlimpah rampah

tanaman tumbuh menjulang menjuntai

serba serbi makhluk tingggal saling merangkul

hijau cemerlang menghiasi kelopak berpasangan

garis-garis putih memenuhi sisinya

julaian gemunung gagah perkasa

 

namun para bedebah bersekongkol bersama iblis

menghancurkan, menguras, merenggut

kehidupan tentram pupus

manusia lemah tertindas

orang orang kecil tak didengar

hewan-hewan diusir terlantar

luput dalam pandangan

sirnah dalam ingatan

 

ibu pertiwi menangis

juga makhluk di dalamnya


puisi oleh: 

ketua bidang riset dan pengembangan keilmuan PK IMM Prof Hamkah

 

 

 

Jumat, 05 Desember 2025


Mahluk Bukan Hanya Manusia, Alam dan Hewan Merupakan Bagian Penting Dari Kehidupan.

Sayangnya alam tidak dapat berbicara untuk menegur. Beberapa hari ini sebagian sumatera dilanda bencana bangjir dan longsor. Seakan mengingatkan kita kepada alam yang selama ini soalah tentram namun menyembunyikan dendam atau lebih pantas disebut mala petaka. Banyak korban meninggal dunia, hilang tampa jejak, kerusakan bangunan, fasilitas umum hancur, rumah-rumah warga rata tak tersisa, akses jalan terputus, listrik padam, internet sirnah. Penjarahan mulai terjadi, sejumlah kendaraan besar saling tumpang tindih, jembatan ambruk, jalanan putus terlelap hingga kedalaman hampir 15 meter kebawah tanah, bau mayat memenuhi sela sela udara, tangisan-tangisan terdengar rapuh, masyarakat hidup dalam penderitaan.

Apakah kondisi ini sepenuhnya merugikan? bagi sebagian orang serakah, kondisi ini bisa menguntungkan karena menjadi sarana kampanye baru, menaikkan popularitas dengan bergerak menenteng karung-karung beras, keranjang-keranjang bantuan sosial seolah pahlawan yang datang dengan tulus.

Dalam kehidupan, manusia dan hutan tak bisa terpisahkan, keduanya memiliki keterikatan. hutan memberikan akses kehidupan yang layak bagi manusia, semakin baik hutan semakin baik pula kehidupan manusia. Kita tahu sendiri kerusakan hutan berpotensi besar mendatangkan bencana, terutama banjir dan longsor karena tiada akar pohon yang menyerap air dan menahan kokoh tanah. Hutan yang rusak, curah hujan tinggi dan kapasitas penanggulangan yang tak kompeten menjadi faktor utama bencana ini.

Per 2025, data lingkungan menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang kehilangan hutan tropisnya, dengan kehilangan seluas 10,5 juta hektar hutan tropis. Pada periode 2016 hingga 2025 hutan di aceh, sumatera utara, dan sumatera barat mengalami deforestasi seluas 1,4 juta hektare. kebijakan pemerintah yang tidak kompeten dan tak berpihak bagi pelestarian alam, eksploitasi sumber daya besar-besaran oleh pihak yang tak bertanggung jawab, deforestasi hutan, pengalokasian lahan tambang, menjadi penyebab kedaan tragis ini. bukan hanya manusia, hewan pun ikut merasakan  dampak, mati, kehilangan rumah, habitatnya direnggut, terlantar tak karuan. Pemerintah dan masyarakat wajib memastikan bencana semacam ini tak terulang kembali dan melakukan evaluasi secara nyata karena kita butuh alam, sebagai tempat aman untuk hidup.

karena alam tak dapat berbicara untuk menegur, alam hanya memastikan haknya terpenuhi bahkan dengan banyak korban berjatuhan, bahkan dengan bencana yang amat dasyat.

Sebuah opini oleh:
ketua bidang riset dan pengembangan keilmuan PK imm prof hamkah 2025/2026

 

 

 

 

Minggu, 14 September 2025

Revitalisasi Kaderisasi Dan Penguantan Kapasitas Kader IMM Prof. Hamka di Era Disrupsi

 


Dalam hidup ini, ada satu atau dua hal yang memang berada di luar kendali kita. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya membuat kita berhenti berusaha. Dakwah di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu jalan yang bisa ditempuh, karena ruang dakwah di IMM lebih dekat dan mudah dijangkau oleh mahasiswa. Melalui aktivitas dan pembinaan yang dilakukan, setiap kader dapat menemukan wadah untuk berproses menuju kebaikan.

Malam yang penuh hangat ini IMM Prof hamka mengadakan kegiatan Masta, dengan tujuan memperkenalkan IMM sebagai organisasi ortom di bawah naungan Muhammadiyah kepada kader baru, selain itu juga membantu kader baru membangun kesan pertama yang kuat terhadap IMM dan Muhammadiyah menanamkan semangat keilmuan, kepedulian, sosial, dan jiwa kemahasiswaan.

IMM dapat dijadikan sebagai “kampus kedua” bagi mahasiswa. Di sini, setiap kader bukan hanya belajar secara akademis, tetapi juga ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. IMM bukanlah tempat untuk orang-orang yang sudah sempurna, melainkan wadah bagi mereka yang bertekad memperbaiki diri dan ingin tumbuh bersama. Karena itu, jangan pernah menyerah ketika menghadapi dinamika di IMM, sebab setiap proses adalah bagian dari pembelajaran.

Kita perlu memahami bahwa setiap harapan pasti akan berhadapan dengan halangan, dan setiap tujuan pasti akan diiringi oleh cobaan. Hambatan yang ada justru menjadi ujian untuk menguatkan niat serta kesungguhan kita. IMM mengajarkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak akan selalu mudah, namun setiap tantangan yang hadir merupakan bagian dari jalan menuju kedewasaan diri.

Perjuangan di IMM bukanlah soal kemustahilan, melainkan tentang keberanian menghadapi kesulitan. Ini bukan bicara tentang sesuatu yang tidak mungkin, tetapi tentang proses yang memang tidak mudah. Karena itu, semangat kebersamaan, konsistensi, dan pengorbanan harus terus dijaga. Bersama IMM, kita belajar bahwa kesulitan hanya akan menjadi batu loncatan menuju pencapaian yang lebih besar. Sebab, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin.

"BERSAMA IMM KITA LEBIH KUAT, KEBERSAMAAN ADALAH SEGALA KUNCI, SATU TUJUAN SATU LANGKAH, BERTUMBUH BERSAMA MENUJU MASA DEPAN GEMILANG"

"IMM" JAYA

SALAM HANGAT, ABADI PERJUANGAN

Honai cengklik, mastakom & upgrading. 13-14,september, 2025


Minggu, 07 September 2025

"Langkah Kaki di Aspal yang Panas: Suara yang Tak Didengar"

     Hari demi hari, kebijakan negeri ini selalu menuai protes dari masyarakat. Berbagai peraturan yang membuat rakyat menjerit seolah-olah tak pernah didengarkan oleh pemerintah. Namun, para anggota dewan justru dimanjakan dengan berbagai tunjangan yang sangat tinggi, berbanding terbalik dengan warga yang harus bekerja keras setiap hari bukan untuk kekayaan namun hanya untuk kebutuhan mereka. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. 

    Berbagai tuntutan terus menerus diajukan demi keadilan di negeri demokrasi ini. Namun, ketika masyarakat tengah menyuarakan keadilan, sebuah tragedi naas terjadi. Seorang ojol dilindas oleh kendaraan taktis brimob yang beratnya mencapai 12 ton. Seharusnya polisi bertugas untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat seperti yang tertulis di UU Nomor 2 tahun 2002. Namun, yang terjadi justru mereka tidak bisa menjalankan kewajiban tersebut. Amarah masyarakat semakin memuncak, demonstrasi mulai bergejolak diberbagai daerah sebagai unjuk protes terhadap pemerintah yang kian bobrok dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 

    Negara demokrasi yang harusnya "dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" Justru tidak berlaku di negeri ini. Wahai pemerintah, apakah kalian lupa tentang mengapa revolusi perancis bisa terjadi? Revolusi Perancis terjadi karena pajak yang mencekik, namun para pejabat dimanjakan dengan berbagai kemewahan. 

    Kami mendesak pemerintah untuk segera membebaskan mahasiwa yang ditahan karena melakukan demonstrasi. Bukankah demonstrasi merupakan bagian dari jalannya negara demokrasi? Semua masyarakat memiliki hak untuk bersuara dan mengkritik pemerintah. Seharusnya pemerintah bisa memahami pentingnya kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia demi membangun negara yang demokratis.

Kamis, 17 April 2025

MEMPERTANYAKAN PERAN AKADEMISI KADER IMM

Written by Ahmad Rahid Raidur Ridho
(Ketua Bidang Tabligh)

Baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan berbagai berita tentang demokrasi, politik, dan lain-lain. Hal ini memicu banyak aksi demo yang dilakukan oleh mahasiswa dari berbagai kampus. Pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana sikap kita sebagai kader IMM dalam situasi politik dan demokrasi saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Kita perlu memahami maksud dari tujuan IMM. Tujuan IMM adalah “Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah”. Sedangkan tujuan Muhammadiyah sendiri adalah “Menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya”.

Lalu, bagaimana Kita bisa menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagaimana tujuan tersebut? Mengapa IMM penting untuk terlibat dalam tujuan Muhammadiyah? Bagaimana kaitan semua ini dengan demokrasi kita?

Menurut Peraturan Presiden No. 59 Tahun 2017, Akademisi adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Definisi ini mungkin kurang relevan jika dikaitkan dengan perkaderan. Sebab tidak semua kader IMM akan menjadi pendidik profesional maupun ilmuwan. Namun, tanggung jawab atas ilmu yang diperoleh tersebut masih relevan.

Dalam sistem perkaderan IMM, menjelaskan bahwa gerakan ilmu amaliah dan ilmiah bertujuan untuk mencapai masyarakat yang ilmiah, yaitu yang memiliki kerangka pikir ilmiah, rasional, dan terbuka. Artinya, tujuan akhir dari ilmu adalah transformasi dalam masyarakat.

Sekarang, pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa malakukan transformasi tersebut? Dalam konteks kemiskinan misalnya, yang mana dalam Islam haruslah diberantas. Sebenarnya, kita perlu melakukan transformasi sehingga umat Islam bisa kuat secara ekonomi. Menurut Kuntowijoyo, kebutuhan umat saat ini tidak hanya terbatas pada pemahaman teks kitab suci, tetapi juga pada kemampuan untuk melakukan transformasi. Jawabannya adalah melalui aktivitas ilmiah yang berbasis pada rasa ingin tahu dan inovasi.

Dalam melaksanakan visinya, IMM lahir untuk mewakili Muhammadiyah di ranah mahasiswa. IMM menjadi wadah bagi mahasiswa untuk membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia dan memiliki kemampuan ilmiah yang tinggi, dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah.

Tujuan IMM sangat relevan dengan tujuan etis organisasi dalam melahirkan individu yang unggul secara pengetahuan dan akhlak. Jika umat Islam unggul karena pengembangan ilmu, maka IMM pun ada untuk kebutuhan aktivitas ilmiah yang berkelanjutan. Dengan demikian, IMM sangat diperlukan untuk melakukan transformasi dalam masyarakat. Kader IMM diharapkan menjadi pionir dalam upaya transformasi tersebut dengan menggunakan intelektualnya untuk membawa perubahan positif di masyarakat.


Editor: Bidang RPK