Jumat, 28 Maret 2025
Ketua dan Kursi-kursi kosong
Kamis, 20 Maret 2025
Bangkitkan Semangat Reformasi
Oleh: IMMawan Faiz (Staff Bidang Kaderisasi PK IMM Prof. Hamka)
Reformasi yang kita raih dengan darah dan air mata seharusnya menjadi titik balik untuk Indonesia yang lebih baik. Namun, kenyataan saat ini justru membuat kita bertanya-tanya, apakah perjuangan itu benar-benar telah membebaskan kita? Apakah kita telah cukup belajar dari luka-luka masa lalu, atau justru sedang menggali lubang yang lebih dalam untuk kembali jatuh ke dalamnya?
Orde Baru adalah sejarah yang begitu kelam, masa di mana rakyat dibungkam, hak-hak mereka diinjak, dan setiap keberanian untuk melawan rezim dihancurkan dengan brutal. Tak ada ruang untuk suara rakyat, tak ada tempat bagi perbedaan. Seharusnya, kita tak pernah lagi merasakan kebangkitan kembali ketidakadilan itu. Namun, hari ini, dengan lahirnya RUU TNI, kita dihadapkan pada kemungkinan kembalinya kekuasaan militer yang menggurita. Adakah kita akan membiarkan itu terjadi? Adakah kita akan diam saat sistem yang dulu menindas, mencoba meraih kembali kekuasaan?
Perjuangan kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan otoriter belum selesai. Bahkan kini, kita melihat gejala-gejala oligarki yang semakin menguat, bersembunyi di balik alasan "keamanan negara," membungkus diri dalam dalih yang tampaknya sah. Tapi kita tahu, ini bukan soal keamanan. Ini soal bagaimana segelintir orang, yang tak peduli dengan rakyat, berusaha mengendalikan nasib kita semua. Mereka yang menguasai ekonomi dan politik, dengan rakusnya mengeruk kekayaan dan kekuasaan, tanpa peduli pada penderitaan yang mereka timbulkan.
Apakah kita akan terus membiarkan mereka memainkan politik kekuasaan dengan cara mereka? Apakah kita rela menjadi penonton dalam cerita buruk ini, membiarkan mereka mengulang sejarah yang tak pernah kita inginkan? Kapan lagi kita akan berdiri, dengan berani dan penuh keyakinan, untuk mengatakan bahwa kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu?
Hei yang di atas, apakah kalian benar-benar melihat kami? Apakah kalian tidak mendengar jeritan kami yang sudah lelah dengan janji palsu dan kebijakan yang hanya memperkaya mereka yang sudah cukup kuat? Kami tidak ingin menjadi bagian dari sejarah kelam yang terlupakan. Kami ingin Indonesia yang sejati, yang menghargai keadilan, yang memberikan ruang bagi setiap warga untuk hidup dengan martabat. Kami ingin negara yang berpihak pada rakyat, bukan pada segelintir elit yang terus menggerogoti kehidupan kami.
Kita harus bangkit! Reformasi ini belum selesai! Jangan biarkan segelintir orang merusak cita-cita kita. Jangan biarkan Indonesia kembali terjerumus ke dalam tangan yang salah. Kekuatan kita ada pada persatuan kita. Kekuatan kita ada pada suara kita. Jika kita diam, maka sejarah ini akan kembali terulang. Tapi jika kita melakukan segala bentuk perlawanan, kita bisa menciptakan Indonesia yang lebih baik untuk kedepannya
"kawal demokrasi, dengan segala dinamika dan romantika, sejarah sedang di ukir kembali"ucap Pak SBY.
Sekarang adalah waktunya. Waktunya untuk berdiri tegak, untuk menuntut perubahan nyata, dan untuk memastikan bahwa cita-cita reformasi tidak hanya menjadi angan-angan yang terlupakan. Waktunya untuk bergerak bersama dan ciptakan dampak yang nyata!!
Nyala Perlawanan ditengah Kegelapan
Oleh: IMMawan Ahmad Asriel Nur Hakiki(Ketua Umum PK IMM Prof. Hamka 2024/2025)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang kian menekan, di saat suara rakyat semakin sayup oleh kebijakan yang menindas, mahasiswa berdiri di garis depan. Mereka bukan sekadar pemuda yang mengisi ruang-ruang akademik, tetapi agen perubahan yang membawa semangat perjuangan.
Mahasiswa melawan bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi rakyat yang kerap menjadi korban ketidakadilan. Mereka turun ke jalan bukan karena haus akan kekacauan, tetapi karena hati mereka gelisah melihat hak-hak rakyat dirampas.
Setiap kebijakan yang menindas, setiap penguasa yang lalim, setiap bentuk eksploitasi terhadap kaum lemah—semua itu menjadi panggilan bagi mahasiswa untuk bertindak. Mereka tidak tinggal diam ketika petani kehilangan tanahnya, buruh diperas tenaganya, nelayan diusir dari lautnya, dan kebebasan berbicara dikekang.
Di saat kesewenang-wenangan merajalela dan rakyat kecil semakin terpinggirkan, mahasiswa hadir sebagai nyala api yang menolak padam. Mereka bukan sekadar penonton dalam panggung ketidakadilan, tetapi aktor utama dalam perjuangan melawan tirani.
Dari ruang-ruang diskusi hingga jalanan yang dipenuhi suara-suara lantang, mahasiswa terus bersuara. Mereka bukan sekadar menuntut perubahan, tetapi bergerak untuk mewujudkannya. Sebab bagi mahasiswa, diam adalah bentuk pengkhianatan, dan tunduk pada penindasan adalah penghancuran nilai-nilai kemanusiaan.
Dengan semangat yang membara, mahasiswa melawan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk rakyat yang suaranya kerap dibungkam, untuk kaum tertindas yang hak-haknya direnggut. Selama masih ada ketidakadilan, mahasiswa akan terus bergerak, meneriakkan kebenaran, dan menyalakan harapan di tengah kegelapan.
Ketika hukum hanya tajam ke bawah, ketika keadilan menjadi barang dagangan, mahasiswa tidak bisa tinggal diam. Perlawanan mereka bukan sekadar aksi turun ke jalan, tetapi panggilan jiwa untuk melawan segala bentuk penindasan.
Mereka mengorganisir diri, menyatukan suara, dan memperjuangkan hak-hak rakyat yang dirampas. Mereka memahami bahwa perubahan tidak akan datang dari mereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan, tetapi dari keberanian mereka yang berani berkata, “Cukup sudah ketidakadilan ini!”
Selama masih ada ketidakadilan, selama rakyat masih tertindas, mahasiswa akan terus melawan!


