PRESS RELEASE
Gender Insight: Meneguhkan Kesetaraan Tanpa Kehilangan Identitas”
Dalam upaya memperkuat pemahaman kader mahasiswa terhadap isu kesetaraan dan keadilan gender, Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka menyelenggarakan kegiatan Kajian & Diskusi Gender yang berkolaborasi dengan Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Komisariat Lukmanul Hakim. Kegiatan ini mengangkat tema “Gender Insight: Meneguhkan Kesetaraan Tanpa Kehilangan Identitas.”
Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Maret 2026, bertempat di Sekretariat IMM Ahmad Dahlan, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Setelah sesi diskusi, kegiatan akan dilanjutkan dengan buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan silaturahmi antar kader organisasi mahasiswa.
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Lailatul Qodriya (Ketua Umum PC IMM Ahmad Dahlan Surakarta) dan Sabna Aish Tartila (Ketua Umum Kohati HMI Sukoharjo). Kegiatan ini dipandu oleh moderator Aulia Rahmawati, selaku Kepala Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka.
Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya kesalahpahaman mengenai konsep gender di masyarakat. Isu kesetaraan gender sering kali dipersepsikan sebagai upaya menyaingi laki-laki atau meninggalkan identitas perempuan. Padahal, dalam perspektif Islam, kesetaraan lebih dimaknai sebagai keadilan dalam peran, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap potensi manusia, baik laki-laki maupun perempuan.
Dalam diskusi ini juga dibahas mengenai konsep energi maskulin dan energi feminin yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap individu. Energi maskulin sering dikaitkan dengan sifat ketegasan, kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, serta orientasi pada tindakan. Perempuan dapat mengekspresikan energi maskulin ketika memimpin organisasi, menyampaikan gagasan secara tegas, mengambil keputusan strategis, atau menghadapi situasi yang menuntut keberanian dan ketangguhan.
Sebaliknya, energi feminin identik dengan empati, kelembutan, kepedulian, serta kemampuan membangun hubungan sosial yang harmonis. Laki-laki juga dapat mengekspresikan energi feminin ketika menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, menjadi pendengar yang baik, merawat keluarga, atau menunjukkan empati terhadap lingkungan sosialnya. Kedua energi ini bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan potensi manusia yang dapat saling melengkapi.
Selain itu, diskusi juga menyoroti bagaimana budaya patriarki dalam masyarakat sering memengaruhi cara pandang terhadap peran perempuan dan laki-laki. Dalam sistem patriarki, laki-laki kerap diposisikan sebagai pihak yang dominan dalam ruang sosial maupun pengambilan keputusan, sementara perempuan sering kali dibatasi pada peran domestik. Kondisi ini dapat memengaruhi akses perempuan terhadap pendidikan, kepemimpinan, serta ruang partisipasi di masyarakat.
Namun demikian, dalam perspektif Islam, relasi antara laki-laki dan perempuan sejatinya dibangun atas dasar tanggung jawab dan keadilan, bukan dominasi. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Ar-rijālu qawwāmūna ‘alan-nisā’i bimā faḍḍalallāhu ba‘ḍahum ‘alā ba‘ḍin wa bimā anfaqū min amwālihim.”
(QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini menjelaskan bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab sebagai qawwam atau penanggung jawab dalam keluarga. Namun konsep ini tidak dimaknai sebagai superioritas mutlak, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dalam memberikan perlindungan, kepemimpinan yang adil, serta pemenuhan kewajiban terhadap keluarga.
Melalui kajian ini, peserta diajak untuk memahami isu gender secara lebih komprehensif serta tidak terjebak pada dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Diskusi ini juga menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang mampu melihat persoalan gender secara kritis, kontekstual, serta tetap berlandaskan pada nilai-nilai keislaman.
Kolaborasi antara IMM dan HMI dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang dialektika yang konstruktif, memperkuat solidaritas gerakan mahasiswa, serta mendorong lahirnya pemahaman yang lebih adil mengenai relasi gender di tengah masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga menjadi momentum mempererat ukhuwah melalui buka puasa bersama setelah diskusi berlangsung.
Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.

