Sabtu, 25 Juli 2026

Gender Insight: Meneguhkan Kesetaraan Tanpa Kehilangan Identitas”


PRESS RELEASE 

Gender Insight: Meneguhkan Kesetaraan Tanpa Kehilangan Identitas”

Dalam upaya memperkuat pemahaman kader mahasiswa terhadap isu kesetaraan dan keadilan gender, Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka menyelenggarakan kegiatan Kajian & Diskusi Gender yang berkolaborasi dengan Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI Komisariat Lukmanul Hakim. Kegiatan ini mengangkat tema “Gender Insight: Meneguhkan Kesetaraan Tanpa Kehilangan Identitas.”


Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 11 Maret 2026, bertempat di Sekretariat IMM Ahmad Dahlan, mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai. Setelah sesi diskusi, kegiatan akan dilanjutkan dengan buka puasa bersama sebagai bentuk kebersamaan dan silaturahmi antar kader organisasi mahasiswa.


Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Lailatul Qodriya (Ketua Umum PC IMM Ahmad Dahlan Surakarta) dan Sabna Aish Tartila (Ketua Umum Kohati HMI Sukoharjo). Kegiatan ini dipandu oleh moderator Aulia Rahmawati, selaku Kepala Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka.


Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya kesalahpahaman mengenai konsep gender di masyarakat. Isu kesetaraan gender sering kali dipersepsikan sebagai upaya menyaingi laki-laki atau meninggalkan identitas perempuan. Padahal, dalam perspektif Islam, kesetaraan lebih dimaknai sebagai keadilan dalam peran, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap potensi manusia, baik laki-laki maupun perempuan.


Dalam diskusi ini juga dibahas mengenai konsep energi maskulin dan energi feminin yang pada dasarnya dimiliki oleh setiap individu. Energi maskulin sering dikaitkan dengan sifat ketegasan, kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, serta orientasi pada tindakan. Perempuan dapat mengekspresikan energi maskulin ketika memimpin organisasi, menyampaikan gagasan secara tegas, mengambil keputusan strategis, atau menghadapi situasi yang menuntut keberanian dan ketangguhan.


Sebaliknya, energi feminin identik dengan empati, kelembutan, kepedulian, serta kemampuan membangun hubungan sosial yang harmonis. Laki-laki juga dapat mengekspresikan energi feminin ketika menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, menjadi pendengar yang baik, merawat keluarga, atau menunjukkan empati terhadap lingkungan sosialnya. Kedua energi ini bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan potensi manusia yang dapat saling melengkapi.


Selain itu, diskusi juga menyoroti bagaimana budaya patriarki dalam masyarakat sering memengaruhi cara pandang terhadap peran perempuan dan laki-laki. Dalam sistem patriarki, laki-laki kerap diposisikan sebagai pihak yang dominan dalam ruang sosial maupun pengambilan keputusan, sementara perempuan sering kali dibatasi pada peran domestik. Kondisi ini dapat memengaruhi akses perempuan terhadap pendidikan, kepemimpinan, serta ruang partisipasi di masyarakat.


Namun demikian, dalam perspektif Islam, relasi antara laki-laki dan perempuan sejatinya dibangun atas dasar tanggung jawab dan keadilan, bukan dominasi. Hal ini tercermin dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:


“Ar-rijālu qawwāmūna ‘alan-nisā’i bimā faḍḍalallāhu ba‘ḍahum ‘alā ba‘ḍin wa bimā anfaqū min amwālihim.”

(QS. An-Nisa: 34)


Ayat ini menjelaskan bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab sebagai qawwam atau penanggung jawab dalam keluarga. Namun konsep ini tidak dimaknai sebagai superioritas mutlak, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dalam memberikan perlindungan, kepemimpinan yang adil, serta pemenuhan kewajiban terhadap keluarga.


Melalui kajian ini, peserta diajak untuk memahami isu gender secara lebih komprehensif serta tidak terjebak pada dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Diskusi ini juga menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial yang mampu melihat persoalan gender secara kritis, kontekstual, serta tetap berlandaskan pada nilai-nilai keislaman.


Kolaborasi antara IMM dan HMI dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang dialektika yang konstruktif, memperkuat solidaritas gerakan mahasiswa, serta mendorong lahirnya pemahaman yang lebih adil mengenai relasi gender di tengah masyarakat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi ilmiah, tetapi juga menjadi momentum mempererat ukhuwah melalui buka puasa bersama setelah diskusi berlangsung.


Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.

Resmi Dilantik, PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta Usung Semangat Kepemimpinan Kolektif

 


Resmi Dilantik, PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta Usung Semangat Kepemimpinan Kolektif


SURAKARTA, 30 MEI 2026 – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Ahmad Dahlan Kota Surakarta menggelar prosesi Pelantikan dan Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) Periode 2026–2027 pada Sabtu, 30 Mei 2026, bertempat di Sekretariat Bersama. Agenda krusial ini menandai dimulainya babak baru estafet kepemimpinan PC IMM Ahmad Dahlan beserta komisariat-komisariat di bawah naungannya, termasuk PK IMM Prof. Hamka.

Mengusung tema “Menumbuhkan Kepemimpinan Kolektif demi IMM Ahmad Dahlan yang Berdaya dan Bermakna,” kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan DPD IMM Jawa Tengah, tokoh pimpinan daerah, civitas akademika, serta ratusan kader dari berbagai komisariat.

Piramida Berita: Estafet Kepemimpinan & Konsolidasi Cabang

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan SK Kepengurusan dan ikrar jabatan oleh seluruh jajaran pengurus baru PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta Periode 2026–2027 yang dipimpin oleh Iwan Ikhwanudin selaku Ketua Umum terpilih, didampingi oleh Ketua Umum periode sebelumnya Siti Rahma Lailatul Q serta Ketua Panitia Habiburrahman.

Turut hadir memberikan dukungan dan apresiasi dalam acara pelantikan ini di antaranya:

  • Nia Nur Pratiwi, S.Pd., M.M. (Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah)
  • Respati Achmad Ardianto, S.H., M.Kn. (Wali Kota Surakarta 2025–2030)
  • Dr. Wahayu, Lc., M.A. (Dosen Fakultas Sharia UIN Raden Mas Said Surakarta)

Usai prosesi pelantikan, agenda dilanjutkan dengan Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) bersama seluruh pimpinan komisariat jajaran, termasuk PK IMM Prof. Hamka. Rakorcab bertujuan merumuskan arah kebijakan strategis, penyelarasan agenda kerja, serta penguatan koordinasi lintas komisariat agar gerakan kaderisasi dan dakwah mahasiswa Muhammadiyah di Kota Surakarta berjalan solid dan berdaya guna.

Ketua Umum PC IMM Ahmad Dahlan Kota Surakarta Periode 2026–2027, Iwan Ikhwanudin, menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi di seluruh tingkatan pimpinan:

> "Kepemimpinan dalam IMM bukanlah tentang individu, melainkan kerja kolektif. Melalui pelantikan dan Rakorcab ini, kita merapatkan barisan, membulatkan tekad, dan menyatukan derap langkah untuk mewujudkan IMM Ahmad Dahlan yang tidak hanya aktif, tetapi juga berdaya dan memberi makna nyata bagi persyarikatan, kampus, dan masyarakat."

Fastabiqul Khoirot

📌 Our Social Media

📸 Instagram: @immprofhamka

🎵 TikTok: @immprofhamka

📝 Blog: pkimmprofhamka.blogspot.com

=============================

#Medkom2026

#IMMProfHamka

#FastabiqulKhoirot

#PKIMMProfHamka #IMMBergerak

#KaderBerkemajuan

#pelantikanimm

Jumat, 08 Mei 2026


                                                                 foto oleh Bidang RPK

 PREES RELEASE___________________________________________________________________

Nobar & Diskusi Film: Refleksi Relasi Gender dalam Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Dalam rangka meningkatkan kesadaran kritis kader terhadap isu sosial dan gender, Bidang RPK berkolaborasi dengan Bidang Immawati PK IMM Prof. Hamka menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film yang mengangkat tema “Membaca Relasi Gender dalam Layar dan Realitas.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada Selasa, 3 Maret 2026 bertempat di Sekre Maroon, mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai. Melalui pemutaran film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, peserta diajak untuk memahami bagaimana persoalan cinta, adat, dan struktur sosial dapat memengaruhi relasi antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat.

Film ini diadaptasi dari karya sastra tokoh ulama dan sastrawan besar Indonesia, Hamka, yang menggambarkan konflik sosial yang dialami tokoh utama akibat perbedaan status sosial dan aturan adat yang kuat di masyarakat Minangkabau.

Salah satu konteks penting yang muncul dalam film ini adalah budaya Minangkabau, yang dikenal sebagai masyarakat matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang mengikuti garis keturunan ibu. Dalam tradisi Minangkabau, perempuan memiliki posisi penting karena dianggap sebagai pewaris suku dan pemegang harta pusaka keluarga. Warisan adat, tanah, serta identitas suku diwariskan melalui garis keturunan ibu, sehingga perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan keluarga dan suku.

Namun di sisi lain, sistem ini juga memiliki aturan adat yang ketat, terutama terkait pernikahan dan hubungan sosial. Dalam beberapa praktik adat, perempuan Minangkabau dianjurkan untuk menikah dengan laki-laki yang berasal dari lingkungan sosial yang dianggap setara atau sesuai dengan adat. Hal ini bertujuan untuk menjaga keutuhan identitas suku dan kehormatan keluarga. Dalam film ini, konflik muncul ketika tokoh perempuan dihadapkan pada pilihan antara mengikuti aturan adat atau mengikuti perasaan dan kebebasan pribadi.

Melalui kisah tersebut, peserta diskusi diajak untuk melihat bahwa budaya dan adat istiadat memiliki peran besar dalam membentuk konstruksi sosial tentang gender. Diskusi juga menjadi ruang refleksi bagi kader mahasiswa untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya dapat berinteraksi dengan nilai keadilan, kebebasan individu, serta ajaran agama.

Selain membahas konteks budaya Minangkabau, kegiatan ini juga menyoroti berbagai hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari film ini. Pertama, pentingnya memahami bahwa cinta dan hubungan manusia tidak selalu berjalan sejalan dengan struktur sosial dan adat yang berlaku. Kedua, film ini mengajarkan bahwa status sosial sering kali menjadi faktor yang memengaruhi kesempatan seseorang dalam kehidupan, sehingga diperlukan sikap empati dan keadilan dalam memandang orang lain.

Ketiga, film ini memberikan refleksi tentang keteguhan hati, kesabaran, dan perjuangan menghadapi takdir kehidupan. Tokoh-tokoh dalam cerita menunjukkan bagaimana manusia berusaha mempertahankan prinsip dan perasaannya meskipun menghadapi tekanan sosial yang kuat. Keempat, kisah ini juga mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan, kejujuran, dan kesetiaan merupakan hal yang lebih penting daripada sekadar status atau kedudukan sosial.

Melalui kegiatan nobar dan diskusi ini, kader IMM diharapkan tidak hanya menikmati film sebagai hiburan, tetapi juga mampu membaca pesan sosial, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Diskusi ini menjadi ruang dialektika yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap realitas sosial serta mengaitkannya dengan perspektif keilmuan dan nilai-nilai keislaman.

Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana memperkuat budaya literasi, refleksi, dan dialog intelektual di kalangan mahasiswa, khususnya kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat.