Per tanggal (23/3) pukul 15.50 WIB, Jumlah pasien positif terinfeksi Virus Corona (Covid-19) kembali Korban yang meninggal pun meningkat menjadi 49 orang, dengan jumlah yang sembuh mencapai 30 pasien. "Jumlah kasus bertambah 65 dari data kemarin. Sehingga total kasus hari ini menjadi 579 orang," ucap juru bicara pemerintah Achmad Yurianto saat konferensi pers di Jakarta yang disiarkan langsung, Senin (23/3).
Berbicara tentang kasus yang tengah viral ini yaitu merebaknya virus Covid-19 yang sudah menjadi pandemi bagi dunia, yang mana dampak yang dibawa virus ini sangat dirasakan bukan hanya hal-hal yang mengenai tentang kesehatan saja, namun juga telah memporak-porandakan masalah sosial seperti ekonomi, politik, pendidikan di banyak negara. Bahkan, beberapa negara terancam masuk ke jurang resesi karena virus yang telah mengepung dan akhirnya ekonomi dunia mengalami perlambatan. Virus covid-19 tidak hanya mengganggu kesehatan fisik seseorang namun juga mentalnya. Kesehatan mental sangat penting bagi kehidupan seseorang. Bahkan tidak hanya penyakit yang terjadi karena virus covid-19 saja apapun penyakitnya akan berdampak terhadap mental seseorang.
WHO menjelaskan bahwa kesehatan mental sebagai "Suatu keadaan yang baik dimana seseorang menyadari kemampuannya, dapat menghadapi stress yang normal, dapat bekerja secara produktif dan menyenangkan, dan dapat berkontribusi dalam komunitasnya." Mental yang sehat bisa memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, bertindak, menangani stres, dan menentukan pilihan. Ketika kesehatan mental kita terganggu, maka kita akan merasakan stres yang dapat membuat daya tahan tubuh menurun dan mengganggu imunitas sehingga mudah terjangkit berbagai macam penyakit.
Merebaknya virus corona baru atau Covid-19 di hampir seluruh wilayah di dunia berimbas pada segala aspek kesehatan. Dilansir dari suara.com, tak terkecuali kesehatan mental, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan kecemasan dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). "Banyak kecemasan berakar pada kekhawatiran tentang hal yang tidak diketahui dan menunggu sesuatu terjadi, virus corona dalam skala makro," kata Rosie Weatherley, juru bicara badan amal kesehatan mental Mind, dikutip BBC.
Chief Executive Anxiety UK, Nicky Lidbetter pun menjelaskan, ketakutan menjadi tidak terkendali dan tidak dapat menolerir ketidakpastian adalah karakteristik umum dari banyak gangguan kecemasan. Ini jelas terlihat dari banyak dari masyarakat dunia yang merasakan tingkat kecemasan, dari skala rendah sampai bahkan sudah tergolong paranoid dalam menanggapi kasus ini. Tak jarang dari mereka yang awalnya baik-baik saja secara fisik akhirnya merasakan sakit. Sakit yang tidak ada kaitannya dengan fisik ini yang berbahaya, psikosomatis biasanya memang menyerang orang-orang yang tidak bisa menjaga kesehatan mentalnya, seperti terlalu stress, cemas, khawatir, depresi, hingga terjadi gangguan mental yang lebih parah lainnya.
Ditambah lagi pemerintah saat ini menerapkan kebijakan tentang Social Distancing dengan penjelasan pembatasan sosial berskala besar berupa pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi penyakit dan atau terkontaminasi sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi. Ruang gerak manusia satu dengan manusia lainnya sangat dibatasi. Dan pemerintah menganjurkan bagi pekerja dan siswa maupun mahasiswa untuk melakukan kegiatan dirumah. Bukan diliburkan tetap masuk dan presensi tetapi semua pekerjaan dikantor dilakukan via online dirumah dan begitupun siswa maupun mahasiswa sekolah dan kuliah pun dilakukan secara online dirumah. Dan pada intinya pemerintah menginstruksikan untuk masyarakat tetap berada di rumah saja, menghindari aktivitas diluar rumah.
Kondisi mengisolasi diri seperti ini juga bisa berpengaruh ke kondisi mental seseorang, merasa terkukung dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa akan memunculkan rasa bosan sampai lama waktunya akan merasakan stress. Melakukan kebiasaan aktif diluar tapi harus dihentikan secara paksa. Semua bisa dinormalkan, dengan tetap produktif didalam rumah. Mungkin dengan mengisolasi diri di rumah meruapakan masa dimana kita untuk meningkatkan spiritual. Karena tingkat spiritual kita yang ideal akan berimbas baik dengan kesehatan mental kita. Jika dapat bertafakkur lebih jauh sebagai muslim, menganggap virus ini adalah sebuah rahmatNya, sebuah peringatan bagi yang berpikir, untuk terus menjadikannya sebagai wasilah atau jalan untuk terus banyak mendekatkan diri kepada Allah Swt, sehingga ketika tingkat keikhlasan tinggi maka akan dirasakan ketenangan dan dengan segala usaha dan doa keselamatan juga kepada Allah Swt, dengan selalu melibatkanNya, dan berharap semua permasalahan ini akan berakhir.
Walaupun mungkin terasa seperti kehidupan telah berhenti, ada cara untuk memanfaatkan waktu ini dalam perspektif dan belajar bagaimana melanjutkannya. Berfokus pada kesiapsiagaan, tetap tenang, menyempatkan diri memeriksa kesejahteraan orang lain, serta melakukan perawatan diri akan membantu kita melalui momen yang menantang dalam sejarah ini," ujar Deborah Serani, PsyD, psikolog dan penulis Sometimes When I’m Sad. "Ingatkan diri kita bahwa Covid-19 adalah penyakit serius tetapi sementara, dan kehidupan akan kembali normal pada waktunya," lanjutnya.
Cegah virus Covid-19, mejaga keshatan fisik dan kesehatan mental dengan :
Kendalikan kecemasan
Olah pikiran dengan tenang
No Hoax pilah informasi yang benar
Sholat dan perbanyak doa
Efektifkan kebiasaan positif
Lindungi diri dan keluarga
Nikmati keadaan ini dengan ikhlas
Gerakan hidup bersih dan sehat
Ikuti aturan saat ini
Social distancing
Lebih baik dirumah
Ayo segera periksa kesehatan
Makan dan Minum yang halal, sehat dan bergizi.
Aisyah Putri.
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PK IMM Prof. Hamka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar