Senin, 02 Desember 2024

Memperingati Milad Muhammadiyah yang ke- 112 PK IMM Prof. Hamka mengadakan Diskusi & Nobar Film.



Sukoharjo, 26 November 2024 – Bidang Riset Pengembangan Keilmuan PK IMM Prof. Hamka menggelar kegiatan Diskusi & Nobar Film Hamka & Raham vol.2 dalam memperingati Milad Muhammadiyah yang ke-112, dimana dengan ini kita bisa merefleksikan bahwasanya tokoh-tokoh Muhammadiyah dulu juga ikut andil dalam perjuangan dan pengorbanan memperjuangkan kemerdekaan NKRI, serta bisa menjadi contoh kepada kader-kader Muhammadiyah yang masih dalam proses dan berjuang menuju masa depan.

Acara Diskusi & Nobar film ini dihadiri oleh kader baru PK IMM Prof. Hamka dan kader seluruh Komisariat dan pimpinan Cabang serta beberapa alumni yang datang pada saat penayangan film & diskusi tersebut. Acara ini juga diramaikan dengan diskusi yang dipantik oleh IMMawan Salman Al-Farossal selaku bidang Riset Pengembangan Keilmuan yang mana menjelaskan bagaiamana kehidupan Buya Hamka & Istrinya Siti Raham untuk memperjuangkan, mengorbankan semua harta bendanya bahkan jiwa raganya untuk Negara Indonesia.



Buya Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh agama yang sangat terkenal di Daerahnya yaitu di tanah Minangkabau. Selain itu Buya Hamka juga seorang budayawan, negarawan, ulama, filsuf dan sastrawan Indonesia. Ia juga berkarier sebagai wartawan, penulis dan pengajar. Pada film Buya Hamka Vol.2 ini menceritakan setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia kembali diserang oleh Belanda yang ingin berkuasa dengan melakukan agresi militer. Buya Hamka akhirnya kembali terlibat dalam perjuangan nasional. Ia bersama beberapa orang melakukan gerilya ke berbagai daerah di Sumatra Barat untuk menggelorakan perjuangan dan persatuan.

Gerilya pun dilakukan lantaran rakyat sipil ternyata masih terpecah belah ditengah agresi militer. Hamka lantas berupaya menjadi penghubung diantara mereka agar tidak terpecah belah dan kembali bersatu. Ditengah gerilya tersebut, keluarga Buya Hamka juga terpaksa mengungsi di Sungai Batang karena Belanda kian mendekati Padang Panjang pada 1948.

Siti Raham mengasuh anak-anaknya dengan kondisi yang sangat terbatas, selagi terus berdoa agar suami diberi keselamatan untuk memperjuangkan mengusir Belanda. Hari haripun makanan Buya Hamka dan keluarga hanya bubur dan dan ubi untuk bertahan hidup, bahkan anaknya yang bernama Aliyah Putri Hamka mengalami sakit yang sangat parah tapi itu sembuh ketika Belanda menyepakati Perjanjian Roem Roeyen pada 1949.

Kata salah seorang kader ketika ditanya apa pelajaran yang bisa diambil dari nonton Film Buya Hmaka & Siti Raham. Ia menjawab “bagaimana konsistensi Buya Hamka dalam menyebarluaskan agama islam, serta keteguhan dan ketauhidan beliau kepada Allah SWT. Bahkan ketika beliau difitnah hingga masuk kedalam penjara pun masih menyempatkan waktu untuk menyelesaikan penulisan kitab Tafsir Al-Azhar”, ujar IMMawati Arda dengan penuh semangat.

Dengan adanya diadakan kegiatan diskusi & nobar film Buya Hamka ini para kader bisa menambah ilmu dan pelajaran. Dan ada pesan dari penulis untuk pembaca “Have a fighting spirit and sacrifice like Buya Hamka in your learning process towards a more beautiful future”. Jadilah kader muda Muhammadiyah yang memiliki semangat yang tiada batasnya.

Penulis : Ahmad Asriel Nur Hakiki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar