Sukoharjo, 26
November 2024 – Bidang Riset Pengembangan Keilmuan PK IMM Prof. Hamka menggelar
kegiatan Diskusi & Nobar Film Hamka & Raham vol.2 dalam memperingati
Milad Muhammadiyah yang ke-112, dimana dengan ini kita bisa merefleksikan
bahwasanya tokoh-tokoh Muhammadiyah dulu juga ikut andil dalam perjuangan dan
pengorbanan memperjuangkan kemerdekaan NKRI, serta bisa menjadi contoh kepada
kader-kader Muhammadiyah yang masih dalam proses dan berjuang menuju masa
depan.
Acara Diskusi
& Nobar film ini dihadiri oleh kader baru PK IMM Prof. Hamka dan kader
seluruh Komisariat dan pimpinan Cabang serta beberapa alumni yang datang pada
saat penayangan film & diskusi tersebut. Acara ini juga diramaikan dengan
diskusi yang dipantik oleh IMMawan Salman Al-Farossal selaku bidang Riset
Pengembangan Keilmuan yang mana menjelaskan bagaiamana kehidupan Buya Hamka
& Istrinya Siti Raham untuk memperjuangkan, mengorbankan semua harta
bendanya bahkan jiwa raganya untuk Negara Indonesia.
Buya Hamka dikenal
sebagai salah satu tokoh agama yang sangat terkenal di Daerahnya yaitu di tanah
Minangkabau. Selain itu Buya Hamka juga seorang budayawan, negarawan, ulama,
filsuf dan sastrawan Indonesia. Ia juga berkarier sebagai wartawan, penulis dan
pengajar. Pada film Buya Hamka Vol.2 ini menceritakan setelah kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia kembali diserang oleh Belanda
yang ingin berkuasa dengan melakukan agresi militer. Buya Hamka akhirnya
kembali terlibat dalam perjuangan nasional. Ia bersama beberapa orang melakukan
gerilya ke berbagai daerah di Sumatra Barat untuk menggelorakan perjuangan dan
persatuan.
Gerilya pun
dilakukan lantaran rakyat sipil ternyata masih terpecah belah ditengah agresi
militer. Hamka lantas berupaya menjadi penghubung diantara mereka agar tidak
terpecah belah dan kembali bersatu. Ditengah gerilya tersebut, keluarga Buya
Hamka juga terpaksa mengungsi di Sungai Batang karena Belanda kian mendekati
Padang Panjang pada 1948.
Siti Raham
mengasuh anak-anaknya dengan kondisi yang sangat terbatas, selagi terus berdoa
agar suami diberi keselamatan untuk memperjuangkan mengusir Belanda. Hari
haripun makanan Buya Hamka dan keluarga hanya bubur dan dan ubi untuk bertahan
hidup, bahkan anaknya yang bernama Aliyah Putri Hamka mengalami sakit yang sangat
parah tapi itu sembuh ketika Belanda menyepakati Perjanjian Roem Roeyen pada
1949.
Kata salah seorang
kader ketika ditanya apa pelajaran yang bisa diambil dari nonton Film Buya
Hmaka & Siti Raham. Ia menjawab “bagaimana konsistensi Buya Hamka dalam menyebarluaskan
agama islam, serta keteguhan dan ketauhidan beliau kepada Allah SWT. Bahkan
ketika beliau difitnah hingga masuk kedalam penjara pun masih menyempatkan
waktu untuk menyelesaikan penulisan kitab Tafsir Al-Azhar”, ujar IMMawati Arda
dengan penuh semangat.
Dengan adanya diadakan kegiatan diskusi & nobar film Buya Hamka ini para kader bisa menambah ilmu dan pelajaran. Dan ada pesan dari penulis untuk pembaca “Have a fighting spirit and sacrifice like Buya Hamka in your learning process towards a more beautiful future”. Jadilah kader muda Muhammadiyah yang memiliki semangat yang tiada batasnya.
Penulis : Ahmad Asriel Nur Hakiki
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar